Selasa, 15 Juni 2021

PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Nama : Cintya Bela

Nim : 11901300

Kelas : PAI 4B

 

Pada blog saya kali ini akan membahas tentang laporan bacaan saya dari jurnal yang berjudul “PERAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM KELUARGA DAN MASYARAKAT” jurnal tersebut dapat diakses melalui link berikut ini https://e-journal.jurwidyakop3.com/index.php/jurnal-ilmiah/article/download/140/123

 


Jurnal ini mengkaji tentang peran pendidikan agama Islam dalam keluarga dan masyarakat yang mempunyai andil besar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui proses pembelajaran di lembaga pendidikan, dari tingkat anak usia dini sampai pada usia pendidikan tinggi. 

 

Menurut Zuchdi (2010:2-3) bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan atau karakter yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Secara akademis, pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, moral, watak, atau akhlak yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik memberikan keputusan baik- buruk, memelihara apa yang baik itu dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari

 

Dengan demikian Pendidikan merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Menurut Ratna Wilis (2006:98) bahwa Pendidikan juga merupakan metode pendekatan yang sesuai dengan fitrah manusia yang memiliki fase tahapan dalam pertumbuhan. Selanjutnya tujuan pendidikan berkaitan erat dengan tujuan hidup manusia, dan tujuan hidup ini pun berbeda-beda antara bangsa yang satu dengan yang lainnya.

 

 

Pendidikan Agama Islam

Menurut Arifin Muzayyin (2010;34): Tujuan Pendidikan Keagamaan adalah untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Seiring dengan perkembangan waktu, maka Pendidikan Agama semakin menjadi perhatian dengan pengertian bahwa pendidikan agama semakin dibutuhkan oleh setiap manusia terutama mereka yang masih duduk di bangku sekolah.

 

Pendidikan Islam memiliki 3 (tiga) tahapan kegiatan yaitu: (1) Tilawah; membacakan ayat Allah, (2) Tazkiyah; mensucikan jiwa, (3) Ta’limul kitab wa sunnah; mengajarkan al kitab dan al hikmah. Pendidikan agama dapat merubah masyarakat jahiliyah menjadi umat yang baik. Pendidikan Islam mempunyai ciri pembentukan pemahaman Islam yang utuh dan menyeluruh, pemeliharaan apa yang telah dipelajarinya, pengembangan atas ilmu yang diperolehnya dan agar tetap pada rel syariah. Hasil dari pendidikan Islam akan membentuk jiwa yang tenang, akal yang cerdas dan fisik yang kuat serta banyak beramal.

 

Pendidikan Islam terpadu dalam pendidikan ruhiyah, fikriyah dan amaliyah (aktivitas). Nilai Islam yang ditanamkan pada individu membutuhkan tahapan-tahapan selanjutnya dan dikembangkan pada pemberdayaan di segala sektor kehidupan manusia. Potensi yang dikembangkan kemudian diarahkan pada merealisasikan potensi dalam berbagai kehidupan. Pendidikan yang diajarkan Allah SWT melalui Rasul-Nya bersumber kepada Al Qur’an sebagai rujukan dan pendekatan agar dengan tarbiyah akan membentuk masyarakat yang sadar dan menjadikan Allah sebagai Ilah saja, maka kehidupan mereka akan selamat di dunia dan akhirat. Hasil ilmu yang diperolehnya adalah kenikmatan yang besar, yaitu berupa pengetahuan, harga diri, kekuatan dan persatuan. Tujuan Utama Pendidikan Islam

 

Tujuan utama dalam pendidikan Islam adalah agar manusia memiliki gambaran tentang Islam yang jelas, utuh dan menyeluruh. Interaksi di dalam diri manusia memberi pengaruh kepada penampilan, sikap, tingkah laku dan amalnya sehingga menghasilkan akhlaq yang baik. Akhlaq ini perlu dan harus dilatih melalui latihan membaca dan mengkaji Al Qur’an, sholat malam, shoum (puasa) sunnah, selalu bersilaturahim dengan keluarga dan masyarakat. Semakin sering ia melakukan latihan, maka semakin banyak amalnya dan semakin mudah ia melakukan kebajikan. Selain itu latihan akan menghantarkan dirinya memiliki kebiasaan yang akhirnya menjadi gaya hidup sehari-hari.

 

Langkah-langkah Menanamkan Pendidikan Islam

Al-Qurthubi menyatakan bahwa ahli-ahli agama Islam membagi tiga tingkatan pengetahuan yaitu: (1) pengetahuan tinggi; ilmu ketuhanan, (2) pengetahuan menengah; mengenai dunia seperti kedokteran dan matematika, (3) pengetahuan rendah; pengetahuan praktis seperti bermacam-macam keterampilan kerja. Hal ini berarti bahwa pendidikan iman/agama harus diutamakan.

 

Tiga hal penting yang harus secara serius dan konsisten diajarkan kepada anak didik yaitu: (1) Pendidikan akidah/keimanan; untuk menghasilkan generasi muda masa depan yang tangguh dalam imtaq (iman dan taqwa) dan terhindar dari aliran atau perbuatan yang menyesatkan kaum remaja seperti gerakan Islam radikal, penyalagunaan narkoba, tawuran dan pergaulan bebas (freesex) yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan, (2) Pendidikan ibadah; untuk diajarkan kepada anak-anak untuk membangun generasi muda yang punya komitmen dan terbiasa melaksanakan ibadah, seperti shalat, puasa, membaca Al-Quran. Peran orang tua dan guru sangat diperlukan dalam memberikan contoh dan teladan yang baik bagi anak-anak dan peserta didik, (3) Pendidikan akhlakul-karimah; untuk melahirkan generasi rabbani, atau generasi yang bertaqwa, cerdas dan berakhlak mulia. Oleh karena itu peran para orang tua dan pendidik baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah sangat dibutuhkan.

 

Penanaman pendidikan Islam bagi generasi muda bangsa tidak akan dapat berjalan secara optimal dan konsisten tanpa dibarengi keterlibatan serius dari semua pihak. Oleh karena itu, semua elemen bangsa (pemerintah, tokoh agama, masyarakat, pendidik, orang tua dan sebagainya) harus memiliki niat dan perhatian yang serius agar generasi masa depan bangsa Indonesia adalah generasi yang berintelektual tinggi dan berakhlak mulia. Pendidikan Agama dalam Keluarga

Keluarga menduduki posisi terpenting di antara lembaga-lembaga sosial yang memiliki perhatian terhadap pendidikan anak. Biasanya dalam keluarga ditanamkan nilai-nilai agama untuk membentuk perilaku anak. Oleh karena itu, pendidikan agama dalam keluarga sangat diperlukan untuk mengetahui batasan-batasan baik dan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan agama diharapkan akan mendorong setiap manusia untuk mengerjakan sesuatu dengan suara hatinya. Mengingat pentingnya pendidikan keluarga dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang berakhlak dan bermoral, maka perlunya pemahaman tentang pendidikan yang tepat.

 

Peran Keluarga dalam Pendidikan

Menurut etimologi peran keluarga dalam pertumbuhan anak ibarat baju besi yang kuat yang melindungi manusia. Secara terminologis, keluarga berarti sekelompok orang yang pertama berinteraksi dengan bayi. Pada tahun-tahun pertama hidup bayi bersama keluarga. Bayi tumbuh dan berkembang mengikuti kebiasaan dan tingkah laku orang tua dan orang-orang sekitarnya. Psikolog dan ahli pendidikan meyakini bahwa keluarga merupakan faktor utama yang mampu memberikan pengaruh terhadap pembentukan dan pengaturan ahklak anak. Keluarga terus memiliki pengaruh di masa kanak- kanak saat anak selesai sekolah, sampai anak itu lepas dari pengasuhan dan mengarungi bahtera rumah tangganya.

 

Peran Keluarga adalah: (1) merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama karena dalam keluargalah manusia dilahirkan, berkembang dan menjadi dewasa. Pendidikan di dalam keluarga sangat mempengaruhi tumbuh dan terbentuknya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia, (2) ibarat sekolah pertama dimasuki anak sebagai pusat untuk menumbuh kembangkan kebiasaan (tabiat), mencari pengetahuan dan pengalaman, (3) perantara untuk membangun kesempurnaan akal anak dan kedua orang tuanya yang bertanggung jawab untuk mengarahkan serta membangun dan mengembangkan kecerdasan berpikir anak. Semua sikap, perilaku dan perbuatan kedua orang tua selalu menjadi perhatian anak-anak.

 

Fungsi-fungsi utama keluarga yaitu: (1) Menjaga fitrah anak yang luhur dan suci, (2) Meluruskan fitrahnya dan membangkitkan serta mengembangkan bakat kemampuan positifnya, (3) Menciptakan lingkungan yang aman dan tenang dan mengasuhnya di lingkungan yang penuh kasih sayang, lemah lembut dan saling mencintai. Dengan demikian anak tersebut memiliki kepribadian normal yang mampu melaksanakan kewajiban dan berguna di masyarakat, (4) memberikan informasi tentang pendidikan dan kebudayaan masyarakat, bahasa, adat istiadat dan norma-norma sosial agar anak dapat mempersiapkan kehidupan sosialnya dalam masyarakat. Untuk itu keluarga perlu: (1) memupuk bakat dan kemampuan anak dalam mencapai perkembangan yang baik, (2) menyediakan lingkungan yang efektif dan kesempatan untuk menumbuhkan kecerdasan emosional, tingkah laku, sosial kemasyarakatan dan kecerdasan intelegensi. (3) memberikan kenyamanan dan ketenangan, serta mampu memahami gerakan, isyarat, dan kebutuhan anak, (4) memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan- pertanyaan anak pada waktu yang tepat. (5) menumbuhkan kepekaan kesadaran bermasyarakat pada anak yang merupakan salah satu unsur kejiwaan, seperti nurani. Kepekaan kesadaran masyarakat itu terus tumbuh di dalam jiwa anak dalam kedisiplinan keluarga

 

Peran Masyarakat dalam Pendidikan.

Masyarakat adalah sekumpulan orang dengan berbagai ragam kualitas diri mulai dari yang tidak berpendidikan sampai pada yang berpendidikan tinggi. Kualitas suatu masyarakat ditentukan oleh kualitas pendidikan para anggotanya, makin baik pendidikan anggotanya, semakin baik pula kualitas masyarakat secara keseluruhan. Masyarakat merupakan lembaga pendidikan yang ketiga setelah pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

 

Pada Sistem pendidikan nasional tercantum bahwa dalam rangka membangun masyarakat lndonesia seutuhnya, pada hakikatnya menjadi tanggung jawab seluruh bangsa lndonesia dan dilaksanakan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah. Hal ini juga ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun pemerintah. Masyarakat ikut bertanggung jawab atas berbagai permasalahan pendidikan. Masyarakat diberikan kesempatan untuk berpartisipasi, sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 8 bahwa; masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Tujuan dari pasal ini adalah agar dapat menjamin pemerataan kesempatan dan kualitas pendidikan. Dengan demikian masyarakat mempunyai peran yang besar dalam pelaksanaan pendidikan nasional antara lain menciptakan suasana yang dapat menunjang pelaksanaan pendidikan dan ikut melaksanakan pendidikan non pemerintah (swasta).

 

Peran Pendidikan Agama di Lingkungan Masyarakat

Menurut H. Jalaluddin: beberapa fungsi agama dalam masyarakat, antara lain: (1) fungsi Edukatif (Pendidikan); ajaran agama secara yuridis (hukum) berfungsi menyuruh/mengajak dan melarang yang harus dipatuhi agar pribagi penganutnya menjadi baik dan benar, dan terbiasa dengan yang baik dan yang benar menurut ajaran agama masing-masing.(2) fungsi Penyelamat; dimanapun manusia berada, dia selalu menginginkan dirinya selamat. Keselamatan yang diberikan oleh agama meliputi kehidupan dunia dan akhirat. (3). fungsi Perdamaian; melalui tuntunan agama seorang/sekelompok orang yang bersalah atau berdosa mencapai kedamaian batin dan perdamaian dengan diri sendiri, sesama, semesta dan Allah, (4) fungsi Kontrol Sosial; ajaran agama membentuk penganutnya semakin peka terhadap masalah-masalah sosial seperti, kemaksiatan, kemiskinan, keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan. Kepekaan ini juga mendorong untuk tidak dapat berdiam diri menyaksikan kebatilan yang merasuki sistem kehidupan yang ada, (5) fungsi Pemupuk Rasa Solidaritas; bila fungsi ini dibangun secara serius dan tulus, maka persaudaraan yang kokoh akan berdiri tegak menjadi pilar "Civil Society" (kehidupan masyarakat) yang memukau, (6) fungsi Pembaharuan; ajaran agama dapat mengubah kehidupan pribadi seseorang atau kelompok menjadi kehidupan baru. Dengan fungsi ini seharusnya agama terus-menerus menjadi agen perubahan basis-basis nilai dan moral bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, (7) fungsi Kreatif; menopang dan mendorong fungsi pembaharuan untuk mengajak umat beragama bekerja produktif dan inovatif bukan hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain, (8) fungsi Sublimatif (bersifat perubahan emosi); ajaran agama mensucikan segala usaha manusia, bukan saja yang bersifat agamawi, melainkan juga bersifat duniawi. Usaha manusia dapat dilakukan selama tidak bertentangan dengan norma-norma agama dan atas niat yang tulus. Dengan demikian Pendidikan agama dalam lingkungan masyarakat sangat berperan penting bagi kehidupan bermasyarakat dan dalam meningkatkan moral bangsa dan Negara.


Sekian laporan bacaan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita sebagai pembaca. 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Selasa, 08 Juni 2021

Keluarga Dalam Lingkungan Pendidikan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Nama : Cintya Bela

Nim : 11901300

Kelas : PAI 4B

Pada blog saya kali ini akan membahas tentang laporan bacaan saya dari jurnal yang berjudul “Keluarga Dalam Lingkungan Pendidikan” jurnal tersebut dapat diakses melalui link berikut ini http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1074666&val=9452&title=KELUARGA%20DALAM%20LINGKUNGAN%20PENDIDIKAN%20%20MANUSIA%20MANDIRI




Jurnal ini mengkaji tentang lingkungan keluarga yang mempunyai andil besar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, salah satu tujuan pendidikan ialah untuk mewujudkan kemandirian anak didik. Mewujudkan proses pemandirian, membutuhkan wadah untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensinya. Wadah tersebut membuat manusia melakukan aktivitas serta hubungan dengan orang lain dalam sistem sosial. Wadah ini disebut dengan keluarga, keluarga sendiri tempat adalah pendidikan pertama dan utama yang berada dan terjadi di dalam lingkungannya yang bersifat informal.

 

Pada bagian pendahuluan, penulis menjelaskan tentang pengertian pendidikan, yaitu pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan orang dewasa terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik untuk menjadi dewasa. Kata lain dapat diartikan bahwa pendidikan itu sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya ada istilah paedagogies dan andragogie. Paedagogie berarti pendidikan atau bimbingan ditujukan kepada pergaulan bersama anak- anak, sedangkan andragogie berarti pendidikan atau bimbingan yang diperuntukkan bagai mereka yang telah lanjut usia (adult). Pendidikan tersebut dapat diusahakan dan dilakukan oleh negara, masyarakat, keluarga atau individu tertentu. Selanjutnya menjelaskan mengenai Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak yang mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU, RI, No. 20 Tahun 2003, bab II, Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

 

Lingkungan pertama dan utama di mana pendidikan dalam segala hal tiada lain adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah “sebagai institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan” (Djamarah, 2004: 16). Di dalamnya hidup bersama pasangan suami istri secara sah karena perkawinan. Mereka hidup bersama sehidup semati, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, selalu rukun dan damai dengan suatu tekad dan cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera lahir dan batin.

 

Fungsi keluarga menurut Ahmad Tafsir (2004), dikutif oleh Helmawati (2014: 44) bahwa fungsi keluarga: “fungsi biologis, fungsi ekonomi, fungsi kasih saying, fungsi pendidikan, fungsi perlindungan, fungsi sosialisasi, fungsi rekreasi, fungsi status keluarga dan fungsi agama”.

 

Selain itu, keluarga juga merupakan satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Keluarga dalam sosiologi adalah batih. Batih ini dimana-mana menjadi sendi masyarakat yang terutama. Batih adalah tempat lahir, tempat pendidikan, tempat perkembangan budi pekerti si anak. Batih juga lambang, tempat dan tujuan hidup bersama isteri sehingga ahli sosiologi dan ahli paedagogik sosial, ahli negara dan sebagainya sama berpendapat bahwa sendi masyarakat yang sehat dan kuat adalah batih yang kukuh sentosa (Miharso Mantep, 2004: 13).

 

Bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa salah satu komponen penting dari proses pendidikan adalah masukan lingkungan dan salah satu dari masukan lingkungan tersebut adalah keluarga. Dalam kerangka pendidikan, keluarga merupakan sekolah (baca: tempat pendidikan) kita yang pertama. Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang teramat penting, karena pendidikan pertama dan utama berada dan terjadi di dalam keluarga. Dengan demikian bahwa masukan lingkungan keluarga punya andil besar dalam mencapai tujuan pendidikan, terlebih lagi dalam rangka mewujudkan kemandirian sasaran didik.

 

Proses pemandirian berasal dari dua kata, yakni proses dan pemandirian. Menurut makna kamus kata proses berarti ‘urutan perubahan (peristiwa) dalam mengembangkan sesuatu’, sedangkan kata pemandirian berasal dari mandiri yang berarti ‘keadaan berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain’ (Depdikbud, 1989). Selanjutnya kata mandiri mendapat imbuhan pe-an. Hal tersebut berarti mengandung suatu usaha untuk membuat seseorang atau masyarakat dapat berdiri sendiri atau tidak tergantung kepada orang lain.

 

Berdasarkan pengertian tersebut, proses pemandirian dapat dikatakan sebagai suatu usaha untuk merubah seseorang atau kelompok orang secara perlahan dari tidak mandiri menjadi mandiri, yakni tidak tergantung kepada orang lain dalam pemecahan masalah yang dihadapinya, atau dalam pencapaian tujuannya. Suatu usaha untuk memproses, pemandirian membutuhkan wadah untuk menumbuhkan dan mengembangkannya. Wadah yang dapat digunakan untuk itu sangat banyak sekali, yakni dimana saja manusia melakukan aktivitasnya, serta berhubungan dengan orang lain di dalam system social. Sistem sosial tersebut bisa dalam bentuk kelompok primer ataupun kelompok sekunder.

Beberapa tempat yang potensial bagi proses kemandirian adalah lembaga pendidikan (termasuk di dalamnya keluarga), kelompok dan lembaga kerja. Yang teramat vital bagi proses kemandirian ialah satuan lembaga pendidikan (termasuk keluarga), karena pada dasarnya perhatian utama yang harus diberikan dalam satuan lembaga pendidikan ialah bagaimana memandiriakan sasaran didiknya agar mampu hidup bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain.

 

Pendidikan sebagai upaya yang dilakukan Negara, masyarakat, keluarga, atau individu tertentu (S. Hamid Hasan, 1995: 2). Oleh karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sedangkan Undang-undang No. 2 Th. 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan keluarga sebagai bagian dari jalur pendidikan luar sekolah. Menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003, bahwa jalur pendidkan terdiri dari atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Tidak dapat diragukan lagi bahwa keluarga mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan, termasuk pendidikan dalam rangka proses pemandirian.

 

Meskipun demikian, belum tentu dalam semua keluarga akan terlaksana proses kemandirian dengan baik, seperti yang dikemukakan terdahulu oleh Mc. Cleland, kemandirian dalam keluarga akan sangat tergantung kepada bagaimana pendekatan yang digunakan masing-masing keluarga (orangtua). Dalam keluarga otoriter biasanya proses pemandirian menjadi mandeg, karena anak tidak dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri. anak akan tertekan dan dalam situasi keterpaksaan untuk mengambil keputusan dia akan mengalami keragu-raguan karena takut salah, sebab dalam keluarga otoriter kebenaran biasanya terletak di tangan orangtua. Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga yang memberikan perlindungan yang berlebihan kepada anak, anak menjadi cengeng dan tidak terbiasa memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri. menghadapi permasalahan kecil saja mereka mengandalkan bantuan orangtuanya. Akhirnya, ketergantungan yang demikianpun mereka bawa ke dalam kehidupannya di masyarakat kelak.

 

Penulis menjelaskan tentang sistem pendidikan yang meliputi, komponen rawa input, instrumental input, dan environmental input (sasaran didik, masukan sarana, dan masukan lingkungan) saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu proses yang disebut proses pendidikan. Proses tersebut selanjutnya akan menghasilkan keluaran (output) berupa perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor pada diri sasaran didik. Perubahan ketiga aspek tersebut selanjutnya akan mempengaruhi kualitas kehidupan sasaran didik (outcome). Kemandirian sebagai salah satu dimensi dari manusia yang berpotensi, memiliki ilmu pengetahuan, cakap, kreatif yang didasari iman, takwa dan berakhlak mulia serta menjadi warga negara yang demokratis dari proses pendidikan.Beranjak dari konsep pendidikan sebagai suatu system sudah barang tentu masukan lingkungan menjadi salah satu komponen penting dari sistem pendidikan. Adapun komponen lingkungan dari pendidikan meliiputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan sebagainya serta lingkungan alam (Sudjana, 1996). Lingkungan pendidikan yang akan dikemukakan dalam  jurnal tersebut adalah, tentang lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan usaha mempersiapkan manusia mandiri.

 

Secara keseluruhan, jurnal ini sudah tersusun secara baik. Namun jurnal ini pada bagian abstraknya terlalu banyak membahas definisi dan latar belakang seperti definisi dari keluarga, tujuan, dan sifat, serta membahas mengenai hal yang melatar belakangi ditulisnya jurnal tersebut yaitu keluarga mempunyai  andil besar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan atau kedewasaan anak. Kurangnya diskusi lebih lanjut mengenai keluarga sebagai lingkungan pendidikan dalam menciptakan manusia yang mandiri, selain itu di dalam jurnal tersebut tidak dijelaskan secara rinci metode penelitian yang dilakukan namun pembaca seperti saya menduga bahwa penelitian yang dilakukan menggunakan studi literatur berdasarkan pembahasan yang dijelaskan teori para ahli. Dibandingkan dengan buku Pedagogik Teoritis Sistematis Bab 8 yang membahas mengenai lingkungan pendidikan yang mencakup seluruh lingkungan yaitu, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Buku tersebut memiliki Cakupan yang luas mengenai lingkungan pendidikan namun jurnal ini mengkhususkan pada keluarga sebagai lingkungan pendidikan. Oleh karena itu kedua sumber ini bisa saling melengkapi sehingga menambah khazanah keilmuan mengenai lingkungan pendidikan.

 

Jurnal ini memberikan gambaran mengenai Proses pemandirian adalah suatu usaha untuk merubah seseorang atau kelompok secara perlahan dari tidak mandiri menjadi mandiri, dimana dalam proses tersebut keluarga merupakan salah satu satuan lembaga yang sangat potensial dan vital atau mempunyai andil yang besar dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi, menumbuhkan keberanian, menanamkan rasa tanggung jawab, dan memberikan kesempatan untuk belajar dari kesalahan.


Sekian laporan bacaan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita sebagai pembaca. 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Senin, 19 April 2021

Laporan Bacaan 2, Magang 1, Cintya Bela (11901300)

 Assalamu’alaikum Wr. Wb  

Perkenalkan nama saya Cintya Bela (11901300) pada kesempatan kali ini saya akan meyampaikan laporan bacaan yang telah saya baca. Bacaan saya pada minggu pertama ini mengambil tema dari Srategi Pembelajaran. Pada jurnal yang berjudul “ STRATEGI BELAJAR & PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN BAHASA” yang bisa kalian akses melalui link ini https://jurnal.umj.ac.id/index.php/penaliterasi/article/download/3210/2754



Strategi adalah suatu seni merancang operasi di dalam peperangan seperti cara-cara mengatur posisi atau siasat dalam berperang, seperti dalam angkatan darat atau angkatan laut. Secara umum, strategi merupakan suatu teknik yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi kedua (1989), strategi adalah ilmu dan seni menggunakan semua sumber daya bangsa-bangsa untuk melaksanakan kebijaksanaan tertentu dalam perang dan damai. 

Menurut O’Malley dan Chamot (1990), strategi adalah seperangkat alat yang melibatkan individu secara langsung untuk mengembangkan bahasa kedua atau bahasa asing. Strategi sering dihubungkan dengan prestasi bahasa dan kecakapan dalam menggunakan bahasa. 

Untuk memahami makna strategi secara lebih dalam, biasanya dikaitkan dengan istilah pendekatan dan metode. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995) Pendekatan adalah proses, perbuatan, atau cara mendekati. Pendekatan merupakan sikap atau pandangan tentang sesuatu, yang biasanya berupa asumsi. Metode adalah rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib. Sifat sebuah metode adalah prosedural. 

Strategi belajar dapat digambarkan sebagai sifat dan tingkah laku. Oxford mendefinisikan strategi belajar sebagai tingkah laku yang dipakai oleh pembelajar agar pembelajaran bahasa berhasil, terarah, dan menyenangkan. Strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berfikir yang digunakan serta mempengaruhi apa yang dipelajari. Strategi pembelajaran bahasa adalah tindakan melaksanakan rencana dengan menggunakan beberapa variabel seperti tujuan, bahan, metode, dan alat, serta evaluasi agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 

Strategi belajar menurut Huda (1999), antara lain: 
  1. Strategi Utama dan Strategi Pendukung. Strategi utama dipakai secara langsung dalam mencerna materi pembelajaran. Strategi pendukung dipakai untuk mengembangkan sikap belajar dan membantu pembelajar dalam mengatasi masalah seperti gangguan, kelelahan, frustasi, dan lain sebagainya. 
  2. Strategi Kognitif dan Strategi Metakognitif. Strategi kognitif dipakai untuk mengelola materi pembelajaran agar dapat diingat untuk jangka waktu yang lama. Strategi metakognitif adalah langkah yang dipakai untuk mempertimbangkan proses kognitif, seperti monitoring diri sendiri, dan penguatan diri sendiri. 
  3. Strategi Sintaksis dan Strategi Semantik. Strategi sintaksis adalah kata fungsi, awalan, akhiran, dan penggolongan kata. 
Strategi semantik adalah berhubungan dengan objek nyata, situasi, dan kejadian. Strategi pembelajaran berdasarkan klasifikasinya, sebagai berikut: 
  1. Penekanan Komponen dalam Program Pengajaran. Komponen program pengajaran anatara lain yang berpusat pada pengajar, peserta didik, dan materi pengajaran. Berpusat pada pengajar, pengajar menyampaikan informasi kepada peserta didik. Teknik penyajian adalah teknik ceramah, teknik team teaching, teknik sumbang saran, teknik demonstrasi, dan teknik antar disiplin. Berpusat pada peserta didik, strategi pembelajaran seperti ini memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk aktif dan berperan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini, pengajar berperan sebagai fasilitator dan motivator. Teknik penyajian adalah teknik diskusi, teknik kerja kelompok, teknik penemuan, teknik eksperimen, teknik kerja lapangan, dan teknik penyajian kusus. Berpusat pada materi pengajaran, materi terbagi dua yaitu materi formal dan materi informal. Materi formal adalah isi pelajaran yang terdapat dalam buku-buku teks resmi disekolah, sedangkan materi informal adalah bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari lingkungan sekolah. Teknik penyajian adalah tutorial, teknik modular, teknik pengajaran terpadu, dan teknik demonstrasi. 
  2. Kegiatan Pengolahan Pesan atau Materi Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian, baik berupa bahan tertulis maupun penjelasan secara verbal. Strategi pembelajaran heuristik adalah sebuah strategi yang menyiasati agar aspek-aspek dari komponen-komponen pembentuk sistem intruksional mengarah kepada pengaktifan peserta didik untuk mencari dan menemukan fakta, prinsip, serta konsep yang mereka butuhkan. 
  3. Pengelohan Pesan atau Materi Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran dedukasi adalah pesan diolah mulai dari hal umum menuju kepada hal khusus. Misalnya bila pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan definisi kalimat tunggal, contoh-contoh kalimat tunggal, dan dilanjutkan penjelasan ciri-ciri kalimat tunggal. Sedangkan strategi pembelajaran induksi adalah pesan diolah mulai dari hal-hal yang khusus menuju kepada konsep yang bersifat umum. Misalnya bila pengajaran tentang kalimat tunggal, maka dimulai dengan memberikan contoh-contoh kalimat tunggal, ciri-ciri kalimat tunggal sehingga peserta didik dapat mendefinisikan sendiri tentang kalimat tunggal. 
  4. Cara Memproses Penemuan Dibedakan menjadi dua, yaitu strategi pembelajaran ekspositoris merupakan strategi berbentuk penguraian yang dapat berupa bahan tertulis atau penjelasan verbal. Strategi penemuan (discovery) adalah proses yang mampu mengasimilasikan sebuah konsep atau prinsip. Seperti mengamati, mencerna, mengerti, menggolongkan, menduga, menjelaskan, dan membuat kesimpulan.
Strategi Keterampilan Berbahasa 
Bahasa dipergunakan sebagaian besar pada aktivitas manusia. Semakin tinggi tingkat penguasaan bahasa seseorang, semakin baik pula penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Penggunaan berbagai teknik dan metode yang inovatif dapat menciptakan situasi pembelajaran yang kondusif. Melalui proses pembelajaran yang dinamis, diharapkan akan tercipta suatu bentuk komunikasi lisan yang terpola melalui keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. 
  1. Strategi Pembelajaran Keterampilan Menyimak. Keterampilan menyimak adalah satu bentuk keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Keterampilan menyimak pada tahapan lebih tinggi mampu menginformasikan kembali pemahamannya malalui keterampilan berbicara maupun menulis. Strategi pembelajaran menyimak sebagai berikut: a) Pemberian informasi tertentu, dalam hal ini peserta didik mendengarkan sebuah informasi, dan melihat demonstrasi serta mencatat. b) Interaksi, dalam hal ini peserta didik diberikan contoh lalu mencontohkan dan mengulangi secara lebih kreatif beserta tanya jawab. c) Secara independen, peserta didik melakukan kegiatan tertentu seperti, menyimak rekaman berupa model, melakukan indentifikasi dan klasifikasi dari suatu bentuk interaksi/percakapan yang nyata. Evaluasi kemampuan menyimak yaitu tes melalui rekaman, tes dalam bentuk tanya jawab, wawancara, menjawab isi dialog, menjawab pertanyaan yang berkenaan dengan drama yang baru ditonton, dan bentuk tes lainnya.
  2. Strategi Pembelajaran Keterampilan Berbicara. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Keterampilan berbicara diawali dengan adanya pemahaman minimal dari pembicara dalam membentuk sebuah kalimat. Sebuah kalimat, betapapun kecilnya, memiliki struktur dasar yang saling berkaitan satu sama lain sehingga mampu menyajikan sebuah makna. Strategi pembelajaran berbicara merujuk pada prinsip stimulus dan respon. Teknik dalam strategi pembelajaran berbicara antara lain: a) Berbicara terpimpin meliputi frase dan kalimat, dialog, dan pembacaan puisi. b) Berbicara semi-terpimpin meliputi reproduksi cerita, cerita berantai, menyusun kalimat dalam sebuah pembicaraan, melaporkan isi bacaan secara lisan. c) Berbicara bebas meliputi diskusi, drama, wawancara, berpidato, dan bermain peran.
  3. Strategi Pembelajaran Keterampilan Membaca. Keterampilan membaca memiliki peranan penting dalam pengembangan pengetahuan dan sebagai alat komunikasi bagi kehidupan manusia. Fakta di lapangan menunjukan bahwa masyarakat di negara maju ditandai oleh berkembangnya suatu kebiasaan membaca yang tinggi. Membaca merupakan suatu kegiatan untuk mendapatkan makna dari apa yang tertulis dalam teks. Pembelajaran membaca harus memperhatikan cara berfikir teratur dan baik. Membaca melibatkan semua proses mental yang lebih tinggi seperti ingatan, pemikiran, daya khayal, pengaturan, penerapan, dan pemecahan masalah. Strategi pembelajaran membaca adalah dengan menggunakan teknik pemberian tugas membaca teks selama waktu tertentu, kemudian mengajukan pertanyaan. Tes kemampuan membaca antara lain menggunakan bentuk betul atau salah, melengkapi kalimat, pilihan ganda, dan pembuatan ringkasan atau rangkuman. Selain itu, strategi lain untuk meningkatkan keterampilan membaca yakni dengan membaca karya sastra.
  4. Strategi Pembelajaran Keterampilan Menulis. Keterampilan menulis didasari oleh penguasaan berbagai unsur kebahasaan maupun unsur diluar bahasa yang akan menjadi isi dalam tulisan. Keduanya harus terjalin sehingga menghasilkan tulisan yang runtun dan padu. Keterampilan menulis merupakan suatu usaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang dilakukan secara tertulis. Isi tulisan yang diungkapkan dapat dipilih secara cermat dan disusun secara sistematis agar dapat dipahami dengan tepat.  Tes keterampilan menulis adalah dengan membuat karangan, dengan kriteria penilaian sebagai berikut: a) Kualitas dan ruang lingkup isi, b)  Organisasi dan penyajian isi, c) Komposisi, d)  Kohesi dan Koherensi, e) Gaya dan bentuk bahasa, f) Tata bahasa, ejaan, tanda baca, g) Kerapihan tulisan dan kebersihan Keterampilan menulis melibatkan unsur linguistik dan ekstralinguistik serta memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menggunakan bahasa secara tepat dan memikirkan gagasan yang akan dikemukakan.
Strategi pembelajaran menjadi faktor utama dalam meningkatkan proses pembelajaran dan keterampilan bahasa. Strategi yang terencana memegang peranan penting dalam proses pembelajaran. Agar strategi tersebut tidak menjauh dari sasaran yang ingin dicapai perlu pemahaman yang lebih baik dalam kegiatan pembelajaran bahasa. Strategi yang berhubungan secara langsung antara pengajar dan peserta didik sehingga menimbulkan stimulus dan respon sangat berperan penting. Komponen program pengajaran yang berpusat pada pengajar, peserta didik dan materi pengajaran juga perlu diterapkan agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. Strategi yang berpusat pada peserta didik merupakan strategi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif sehingga pengajar hanya berperan sebagai fasilitator dan motivator. Dalam pembelajaran keterampilan berbahasa strategi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis didukung oleh teknik pengajaran yang sesuai dan perlunya penilaian keterampilan berbahasa dengan berbagai tes keterampilan untuk mengetahui hasil dari proses pembelajaran. Sehingga dapat meningkatkan mutu dan kualitas dalam keterampilan berbahasa setiap individu. 

Sekian laporan bacaan yang dapat saya sampaikan, saya harap blog ini bisa bermanfaat bagi pembaca. Wassalamua'laikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Senin, 12 April 2021

LAPORAN HASIL BACAAN MENGENAI MANAJEMEN KELAS

Assalamu’alaikum Wr. Wb  

Perkenalkan nama saya Cintya Bela pada kesempatan kali ini saya akan meyampaikan laporan bacaan yang telah saya baca. Bacaan saya pada minggu pertama ini mengambil tema dari Manajemen Kelas. Pada jurnal yang berjudul “Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar Mengajar“ yang bisa kalian akses melalui link ini https://core.ac.uk/download/pdf/228816301.pdf


Pada pembahasan  pertama dari jurnal ini membahas tentang pengertian dari manajemen kelas dari segi bahasa dan menurut para ahli pendidikan. Dari segi bahasa Manajemen merupakan terjemahan dari kata “Pengelolaan”. Arti dari manajemen adalah pengelolaan, penyelenggaraan, ketatalaksanaan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diinginkan. Maka, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan atau manajemen adalah penyelenggaraan atau pengurusan agar sesuatu yang dikelola dapat berjalan dengan lancar, efektif dan efisien. para ahli pendidikan mendefinisikan manajemen kelas, antara lain :

  • DR. Hadari Nawawi berpendapat bahwa manajemen kelas diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah, sehingga waktu dan dana yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efisien untuk melakukan kegiatan-kegiatan kelas yang berkaitan dengan kurikulum dan perkembangan murid.
  • Johanna Kasin Lemlech, dalam bukunya Drs. Cecep Wijaya & Drs. A. Tabrani Rusyan mengatakan bahwa “Classroom management is the orchestration of classroom life : planning curriculum, organizing procedures and resources, arranging the environment to maximize efficiency, monitoring student progress, anticipating potential problems.“ Menurut definisi ini, yang dimaksud dengan manajemen kelas adalah usaha dari pihak guru untuk menata kehidupan kelas dimulai dari perencanaan kurikulumnya, penataan prosedur dan sumber belajarnya, pengaturan lingkungannya untuk memaksimumkan efisiensi, memantau kemajuan siswa, dan mengantisipasi masalah- masalah yang mungkin timbul.
  • Drs. Syaiful Bahri Djamarah berpendapat bahwa “manajemen kelas adalah suatu upaya memberdayagunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendukung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.”
Pada pembahasan  kedua dari jurnal ini membahas tentang fungsi manajemen kelas, penulis mengemukakan fungsi manajemen kedalam beberapa poin sebagai berikut :
  1. Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pengajaran yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan itu. 
  2.  Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pengajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.
  3. Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pengajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.
  4. Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan murid, minat-minat murid, dan mendorong motivasi belajar.
  5. Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi kurikulum yang lebih baik, metode yang tepat dan menghemat waktu.
  6. Murid-murid akan menghormati guru yang dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengajar sesuai dengan harapan- harapan mereka.
  7. Memberikan kesempatan bagi guru-guru untuk memajukan pribadinya dan perkembangan profesionalnya.
  8.  Membantu guru memiliki perasaan percaya pada diri sendiri dan menjamin atas diri sendiri.
  9.  Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up to date kepada murid

Pembahasan selanjutnya dari jurnal ini membahas tentang tujuan manajemen kelas. Adapun tujuan dari manajemen kelas secara umum yang dikemukakan penulis adalah sebagai berikut :

  1. Agar pengajaran dapat dilakukan secara maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
  2. Untuk memberi kemudahan dalam usaha memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan manajemen kelas, guru mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan atau perkembangan yang dicapai siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
  3. Untuk memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.

Selanjutnya penulis mengemukakan tujuan manejemen kelas kedalam dua bagian yaitu untuk siswa dan untuk guru
Pertama, Tujuan Untuk Siswa
  1. Mendorong siswa untuk mengembangkan tanggung-jawab individu terhadap tingkah lakunya dan kebutuhan untuk mengontrol diri sendiri.
  2. Membantu siswa untuk mengetahui tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan dan bukan kemarahan.
  3. Membangkitkan rasa tanggung jawab untuk melibatkan diri dalam tugas maupun pada kegiatan yang diadakan.

Maka dapat disimpulkan bahwa tujuan daripada manajemen kelas adalah agar setiap anak dikelas dapat bekerja dengan tertib, sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.

 Kedua, Tujuan Untuk Guru:

  1. Untuk mengembangkan pemahaman dalam penyajian pelajaran dengan pembukaan yang lancar dan kecepatan yang tepat.
  2. Untuk dapat menyadari akan kebutuhan siswa dan memiliki kemampuan dalam memberi petunjuk secara jelas kepada siswa.
  3. Untuk mempelajari bagaimana merespon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang mengganggu.
  4. Untuk memiliki strategi ramedial yang lebih komprehensif yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang muncul didalam kelas.

Maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap guru mampu menguasai kelas dengan menggunakan berbagai macam pendekatan dengan menyesuaikan permasalahan yang ada, sehingga tercipta suasana yang kondusif, efektif dan efisien.

Pada pembahasaan selanjutnya membahas tentang prosedur menajemen kelas, dalam jurnal ini penulis membagi prosedur manajemen kelas menjadi dua bentuk, yang pertama prosedur manajemen kelas yang bersifat preventif dan bersifat kuratif.

1.      Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Preventif Meliputi :

a.    Peningkatan Kesadaran Pendidik Sebagai Guru

Suatu langkah yang mendasar dalam strategi manajemen kelas yang bersifat preventif adalah meningkatkan kesadaran diri pendidik sebagai guru.

b.    Peningkatan Kesadaran Siswa

Kesadaran akan kewajibannya dalam proses pendidikan ini baru akan diperoleh secara menyeluruh dan seimbang jika siswa itu menyadari akan kebutuhannya dalam proses pendidikan. Dalam hal proses pembelajaran, siswa harus menyadari bahwa belajar adalah dengan tujuan tertentu.

c.    Penampilan Sikap Tulus Guru

Guru mempunyai peranan yang besar dalam menciptakan kondisi belajar yang optimal. Guru perlu bersikap dan bertindak secara wajar, tulus dan tidak pura-pura terhadap siswa.

d.      Pengenalan Terhadap Tingkah Laku Siswa 

Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan.

e.       Penemuan Alternatif Manajemen Kelas

Agar pemilihan alternatif tindakan Manajemen Kelas dapat sesuai dengan situasi yang dihadapinya, maka perlu kiranya pendidik mengenal berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas.

f.     Pembuatan Kontrak Sosial

Kontrak sosial pada hakekatnya berupa norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tetulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok.

2.      Prosedur Manajemen Kelas yang Bersifat Kuratif meliputi:

a.    Identiffikasi masalah

Pertama-tama guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu kelancaran proses pendidikan didalam kelas, dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak negatif secara luas atau tidak, ataukah hanya sekedar masalah perseorangan atau kelompok, ataukah bersifat sesaat saja ataukah sering dilakukan maupun hanya sekedar kebiasaan siswa.

b.    Analisis Masalah

Dengan hasil penyidikan yang mendalam, seorang guru dapat melanjutkan langkah ini yaitu dengan berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-musabab timbulnya tingkah laku siswa yang menyimpang tersebut. Dengan demikian, akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya.

c.    Penetapan Alternatif Pemecahan

Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan tersebut, hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam Manajemen Kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing- masing

d.      Monitoring

Hal ini diperlukan, karena akibat perlakuan guru dapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa yang menyimpang, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring ini pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat dari apa yang telah terjadi.

e.   Memanfaatkan Umpan Balik (Feed-Back) Hasil Monitoring tersebut, hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakannya untuk :

1) Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.

2) Dasar dalam melakukan kegiatan Manajemen Kelas berikutnya sebagai tindak lanjut dari kegiatan Manajemen Kelas yang sudah dilakukan sebelumnya.

Pembahasan selanjutnya dari jurnal ini yaitu membahas tentang Pendekatan menajemen kelas yaitu Pendekatan Manajerial, Pendekatan ini dilihat dari sudut pandang manajemen yang berintikan konsepsi tentang kepemimpinan. Dalam pendekatan ini, dapat dibedakan menjadi

1. Kontrol Otoriter

Dalam menegakkan disiplin kelas guru harus bersikap keras, jika perlu dengan hukuman-hukuman yang berat. Menurut konsep ini, disiplin kelas yang baik adalah apabila siswa duduk, diam, dan mendengarkan perkataan guru.

2. Kebebasan Liberal

Menurut konsep ini, siswa harus diberi kebebasan sepenuhnya untuk melakukan kegiatan apa saja sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dengan cara seperti ini, aktivitas dan kreativitas anak akan berkembang sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, sering terjadi pemberian kebebasan yang penuh, ini berakibat terjadinya kekacauan atau kericuhan didalam kelas karena kebebasan yang didapat oleh siswa disalahgunakan.

3. Kebebasan Terbimbing

Konsep ini merupakan perpaduan antara kontrol otoriter dan kebebasan liberal. Disini siswa diberi kebebasan untuk melakukan aktivitas, namun terbimbing atau terkontrol. Disatu pihak siswa diberi kebebasan sebagai hak asasinya, dan dilain pihak siswa harus dihindarkan dari perilaku-perilaku negatif sebagai akibat penyalahgunaan kebebasan. Disiplin kelas yang baik menurut konsep ini lebih ditekankan kepada kesadaran dan pengendalian diri-sendiri.

Penulis juga mengemukakan Implementasi Manajemen Kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar meliputi: perencanaan pembelajaran, pengarahan, mengatur ruang kelas, komunikasi; dan kontrol. Hal ini diimplementasikan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar sehingga dapat meraih prestasi yang murni.

Dalam jurnal ini juga membahas tentang Faktor penghambat manajemen kelas dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar adalah

a. Faktor guru, faktor penghambat yang datang dari berupa hal-hal, seperti: tipe kepemimpinan guru yang otoriter, format belajar mengajar yang tidak bervariasi (monoton), kepribadian guru yang tidak baik, pengetahuan guru yang kurang, serta pemahaman guru tentang peserta didik yang kurang.

b. Faktor peserta didik. Kekurang sadaran peserta didik dalam memenuhi tugas dan haknya sebagai anggota kelas atau suatu sekolah akan menjadi masalah dalam pengelolaan kelas.

c. Faktor keluarga. Tingkah laku peserta didik di dalam kelas merupakan pencerminan Keadaan keluarganya. Sikap otoriter orang tua akan tercermin dari tingkah laku peserta didik yang agresif atau apatis. Di dalam kelas sering ditemukan ada peserta didik pengganggu dan pembuat ribut, mereka itu biasanya dari keluarga yang broken-home.

d. Faktor fasilitas. Faktor ini meliputi: jumlah peserta didik dalam kelas yang terlalu banyak dan tidak seimbang dengan ukuran kelas, besar dan kecilnya ruangan tidak disesuaikan dengan jumlah peserta didiknya, ketersediaan alat yang tidak sesuai dengan jumlah peserta didik yang membutuhkannya.

Penulis juga membahas Usaha-usaha yang harus ditempuh dalam manajemen kelas sehingga dapat meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar yaitu: 
a) mempersiapkan tugas administratif, 
b) penggunaan metode pembelajaran dan media pembelajaran yang bervariasi; dan 
c) menggunakan pendekatan pluralistik.

 Sekian laporan bacaan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat bagi para pembaca

Wassalamu'alaikum Wr Wb