Selasa, 08 Juni 2021

Keluarga Dalam Lingkungan Pendidikan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh 

Nama : Cintya Bela

Nim : 11901300

Kelas : PAI 4B

Pada blog saya kali ini akan membahas tentang laporan bacaan saya dari jurnal yang berjudul “Keluarga Dalam Lingkungan Pendidikan” jurnal tersebut dapat diakses melalui link berikut ini http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1074666&val=9452&title=KELUARGA%20DALAM%20LINGKUNGAN%20PENDIDIKAN%20%20MANUSIA%20MANDIRI




Jurnal ini mengkaji tentang lingkungan keluarga yang mempunyai andil besar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, salah satu tujuan pendidikan ialah untuk mewujudkan kemandirian anak didik. Mewujudkan proses pemandirian, membutuhkan wadah untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensinya. Wadah tersebut membuat manusia melakukan aktivitas serta hubungan dengan orang lain dalam sistem sosial. Wadah ini disebut dengan keluarga, keluarga sendiri tempat adalah pendidikan pertama dan utama yang berada dan terjadi di dalam lingkungannya yang bersifat informal.

 

Pada bagian pendahuluan, penulis menjelaskan tentang pengertian pendidikan, yaitu pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan orang dewasa terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik untuk menjadi dewasa. Kata lain dapat diartikan bahwa pendidikan itu sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Dalam perkembangannya ada istilah paedagogies dan andragogie. Paedagogie berarti pendidikan atau bimbingan ditujukan kepada pergaulan bersama anak- anak, sedangkan andragogie berarti pendidikan atau bimbingan yang diperuntukkan bagai mereka yang telah lanjut usia (adult). Pendidikan tersebut dapat diusahakan dan dilakukan oleh negara, masyarakat, keluarga atau individu tertentu. Selanjutnya menjelaskan mengenai Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak yang mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU, RI, No. 20 Tahun 2003, bab II, Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

 

Lingkungan pertama dan utama di mana pendidikan dalam segala hal tiada lain adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah “sebagai institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan” (Djamarah, 2004: 16). Di dalamnya hidup bersama pasangan suami istri secara sah karena perkawinan. Mereka hidup bersama sehidup semati, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul, selalu rukun dan damai dengan suatu tekad dan cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera lahir dan batin.

 

Fungsi keluarga menurut Ahmad Tafsir (2004), dikutif oleh Helmawati (2014: 44) bahwa fungsi keluarga: “fungsi biologis, fungsi ekonomi, fungsi kasih saying, fungsi pendidikan, fungsi perlindungan, fungsi sosialisasi, fungsi rekreasi, fungsi status keluarga dan fungsi agama”.

 

Selain itu, keluarga juga merupakan satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Keluarga dalam sosiologi adalah batih. Batih ini dimana-mana menjadi sendi masyarakat yang terutama. Batih adalah tempat lahir, tempat pendidikan, tempat perkembangan budi pekerti si anak. Batih juga lambang, tempat dan tujuan hidup bersama isteri sehingga ahli sosiologi dan ahli paedagogik sosial, ahli negara dan sebagainya sama berpendapat bahwa sendi masyarakat yang sehat dan kuat adalah batih yang kukuh sentosa (Miharso Mantep, 2004: 13).

 

Bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa salah satu komponen penting dari proses pendidikan adalah masukan lingkungan dan salah satu dari masukan lingkungan tersebut adalah keluarga. Dalam kerangka pendidikan, keluarga merupakan sekolah (baca: tempat pendidikan) kita yang pertama. Keluarga adalah lingkungan pendidikan yang teramat penting, karena pendidikan pertama dan utama berada dan terjadi di dalam keluarga. Dengan demikian bahwa masukan lingkungan keluarga punya andil besar dalam mencapai tujuan pendidikan, terlebih lagi dalam rangka mewujudkan kemandirian sasaran didik.

 

Proses pemandirian berasal dari dua kata, yakni proses dan pemandirian. Menurut makna kamus kata proses berarti ‘urutan perubahan (peristiwa) dalam mengembangkan sesuatu’, sedangkan kata pemandirian berasal dari mandiri yang berarti ‘keadaan berdiri sendiri, tidak tergantung kepada orang lain’ (Depdikbud, 1989). Selanjutnya kata mandiri mendapat imbuhan pe-an. Hal tersebut berarti mengandung suatu usaha untuk membuat seseorang atau masyarakat dapat berdiri sendiri atau tidak tergantung kepada orang lain.

 

Berdasarkan pengertian tersebut, proses pemandirian dapat dikatakan sebagai suatu usaha untuk merubah seseorang atau kelompok orang secara perlahan dari tidak mandiri menjadi mandiri, yakni tidak tergantung kepada orang lain dalam pemecahan masalah yang dihadapinya, atau dalam pencapaian tujuannya. Suatu usaha untuk memproses, pemandirian membutuhkan wadah untuk menumbuhkan dan mengembangkannya. Wadah yang dapat digunakan untuk itu sangat banyak sekali, yakni dimana saja manusia melakukan aktivitasnya, serta berhubungan dengan orang lain di dalam system social. Sistem sosial tersebut bisa dalam bentuk kelompok primer ataupun kelompok sekunder.

Beberapa tempat yang potensial bagi proses kemandirian adalah lembaga pendidikan (termasuk di dalamnya keluarga), kelompok dan lembaga kerja. Yang teramat vital bagi proses kemandirian ialah satuan lembaga pendidikan (termasuk keluarga), karena pada dasarnya perhatian utama yang harus diberikan dalam satuan lembaga pendidikan ialah bagaimana memandiriakan sasaran didiknya agar mampu hidup bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain.

 

Pendidikan sebagai upaya yang dilakukan Negara, masyarakat, keluarga, atau individu tertentu (S. Hamid Hasan, 1995: 2). Oleh karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Sedangkan Undang-undang No. 2 Th. 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyatakan keluarga sebagai bagian dari jalur pendidikan luar sekolah. Menurut UUSPN No. 20 Tahun 2003, bahwa jalur pendidkan terdiri dari atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya. Tidak dapat diragukan lagi bahwa keluarga mempunyai peranan yang penting dalam pendidikan, termasuk pendidikan dalam rangka proses pemandirian.

 

Meskipun demikian, belum tentu dalam semua keluarga akan terlaksana proses kemandirian dengan baik, seperti yang dikemukakan terdahulu oleh Mc. Cleland, kemandirian dalam keluarga akan sangat tergantung kepada bagaimana pendekatan yang digunakan masing-masing keluarga (orangtua). Dalam keluarga otoriter biasanya proses pemandirian menjadi mandeg, karena anak tidak dibiasakan untuk mengambil keputusan sendiri. anak akan tertekan dan dalam situasi keterpaksaan untuk mengambil keputusan dia akan mengalami keragu-raguan karena takut salah, sebab dalam keluarga otoriter kebenaran biasanya terletak di tangan orangtua. Hal yang sama juga terjadi dalam keluarga yang memberikan perlindungan yang berlebihan kepada anak, anak menjadi cengeng dan tidak terbiasa memecahkan masalah yang dihadapinya sendiri. menghadapi permasalahan kecil saja mereka mengandalkan bantuan orangtuanya. Akhirnya, ketergantungan yang demikianpun mereka bawa ke dalam kehidupannya di masyarakat kelak.

 

Penulis menjelaskan tentang sistem pendidikan yang meliputi, komponen rawa input, instrumental input, dan environmental input (sasaran didik, masukan sarana, dan masukan lingkungan) saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu proses yang disebut proses pendidikan. Proses tersebut selanjutnya akan menghasilkan keluaran (output) berupa perubahan kognitif, afektif, dan psikomotor pada diri sasaran didik. Perubahan ketiga aspek tersebut selanjutnya akan mempengaruhi kualitas kehidupan sasaran didik (outcome). Kemandirian sebagai salah satu dimensi dari manusia yang berpotensi, memiliki ilmu pengetahuan, cakap, kreatif yang didasari iman, takwa dan berakhlak mulia serta menjadi warga negara yang demokratis dari proses pendidikan.Beranjak dari konsep pendidikan sebagai suatu system sudah barang tentu masukan lingkungan menjadi salah satu komponen penting dari sistem pendidikan. Adapun komponen lingkungan dari pendidikan meliiputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan sebagainya serta lingkungan alam (Sudjana, 1996). Lingkungan pendidikan yang akan dikemukakan dalam  jurnal tersebut adalah, tentang lingkungan keluarga dalam kaitannya dengan usaha mempersiapkan manusia mandiri.

 

Secara keseluruhan, jurnal ini sudah tersusun secara baik. Namun jurnal ini pada bagian abstraknya terlalu banyak membahas definisi dan latar belakang seperti definisi dari keluarga, tujuan, dan sifat, serta membahas mengenai hal yang melatar belakangi ditulisnya jurnal tersebut yaitu keluarga mempunyai  andil besar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan atau kedewasaan anak. Kurangnya diskusi lebih lanjut mengenai keluarga sebagai lingkungan pendidikan dalam menciptakan manusia yang mandiri, selain itu di dalam jurnal tersebut tidak dijelaskan secara rinci metode penelitian yang dilakukan namun pembaca seperti saya menduga bahwa penelitian yang dilakukan menggunakan studi literatur berdasarkan pembahasan yang dijelaskan teori para ahli. Dibandingkan dengan buku Pedagogik Teoritis Sistematis Bab 8 yang membahas mengenai lingkungan pendidikan yang mencakup seluruh lingkungan yaitu, lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Buku tersebut memiliki Cakupan yang luas mengenai lingkungan pendidikan namun jurnal ini mengkhususkan pada keluarga sebagai lingkungan pendidikan. Oleh karena itu kedua sumber ini bisa saling melengkapi sehingga menambah khazanah keilmuan mengenai lingkungan pendidikan.

 

Jurnal ini memberikan gambaran mengenai Proses pemandirian adalah suatu usaha untuk merubah seseorang atau kelompok secara perlahan dari tidak mandiri menjadi mandiri, dimana dalam proses tersebut keluarga merupakan salah satu satuan lembaga yang sangat potensial dan vital atau mempunyai andil yang besar dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak untuk berkreasi, menumbuhkan keberanian, menanamkan rasa tanggung jawab, dan memberikan kesempatan untuk belajar dari kesalahan.


Sekian laporan bacaan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan kita sebagai pembaca. 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar